Dokter: Jangan Tunggu Nyeri untuk Curigai Usus Buntu
berita Maluku Tenggara (Kepulauan Kei) Berita Maluku Terkini Jakarta (DMS) – Dokter mengingatkan orang tua agar tidak menunggu nyeri perut kanan bawah untuk mencurigai usus buntu atau appendicitis akut pada anak. Gejala usus buntu pada anak tidak selalu diawali dengan rasa sakit di bagian kanan bawah perut. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K), mengatakan gejala yang tidak khas bukan berarti anak terbebas dari risiko usus buntu. “Kalau tidak ada gejala klasik, artinya bukan berarti penyakitnya itu bukan appendicitis atau usus buntu,” kata Himawan dalam seminar daring IDAI, Selasa (1/9). Menurut Himawan, sakit perut akibat usus buntu pada anak tidak selalu langsung terasa di perut kanan bawah. Nyeri dapat terlebih dahulu muncul di sekitar pusar atau ulu hati, kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perkembangan dan perubahan keluhan sakit perut pada anak. Pada anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa, usus buntu umumnya memiliki pola gejala yang lebih khas. Kondisi tersebut dapat diawali dengan berkurangnya nafsu makan, kemudian muncul sakit perut di sekitar pusar atau ulu hati. Keluhan tersebut dapat disertai muntah sebelum rasa sakit akhirnya berpindah ke perut kanan bawah. Namun, urutan gejala tidak selalu sama pada setiap pasien. Kondisi ini terutama perlu diperhatikan pada anak kecil atau balita. Mereka sering kali belum mampu menjelaskan lokasi maupun karakter rasa sakit yang dirasakan. “Karena dia sendiri tidak bisa, pasiennya sendiri tidak bisa mendeskripsikan sakitnya dengan jelas,” ujar Himawan. Himawan meminta orang tua lebih waspada jika sakit perut anak semakin berat, terutama ketika nyeri mulai terasa di perut kanan bawah. Rasa sakit yang semakin kuat saat anak bergerak, berjalan, atau meloncat juga perlu menjadi perhatian. Selain itu, muntah yang muncul setelah sakit perut serta demam yang menyertai keluhan tersebut merupakan tanda yang perlu diwaspadai. “Jadi kalau ada tanda-tanda bahaya ini, kita harus juga (mencurigai) salah satunya adalah usus buntu,” katanya. Meski demikian, sakit perut pada anak tidak selalu disebabkan usus buntu. Keluhan tersebut juga dapat terjadi akibat infeksi saluran pencernaan, sembelit, atau infeksi saluran kemih. Oleh sebab itu, orang tua disarankan membawa anak ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan apabila sakit perut semakin berat. Pemeriksaan juga diperlukan jika anak terlihat sangat sakit, lemas, lebih banyak tidur, atau merintih karena kesakitan. Dengan mengenali perubahan gejala sejak awal, orang tua dapat lebih cepat mencari pertolongan medis ketika kondisi anak menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.